Menu Bar

Kamis, 04 Juli 2013

Bukan Cuma Pemimpi

Bukan Cuma Pemimpi
Penulis: Angga Pamungkas

Kenalkan nama saya Wahyu umur 22 tahun pekerjaan pegawai tempat fotocopy dan saya juga memiliki pekerjaan sampingan melihat berkas-berkas mimpi saya di masa lalu bersama teman saya yang bernama Gilang yang telah menghilang entah kemana.Dia meninggalkan sejuta kenangan bersama saya terutama soal mimpi. Mimpi adalah harapan yang kita inginkan saat ini untuk kita capai atau wujudkan suatu saat nanti. Ada banyak orang yang berkata hidup itu berawal dari mimpi, mungkin itu benar tapi mungkin juga salah. Banyak orang berkata “buat apa bermimpi yang tinggi jika tidak bisa menggapainya, lebih baik jalani hidup seadanya dan berharap tuhan memberi keberuntungan” , tapi itu semua tidak membuat saya
berhenti bermimpi dan melanjutkan mimpi-mimpi saya bersama Gilang meski dia sudah menghilang.
            Saya akan bercerita sejenak kenangan saya dimasa lalu. Saya tinggal disebuah desa kecil di pinggiran ibu kota. Disini saya memiliki banyak teman, mulai dari kulit hitam,putih rambut keriting,lurus bertubuh pendek,tinggi dan lain lain. Walaupun kami berbeda disini kami tetap saling menghormati karena kami semua punya prinsip “ingin dihormati kita harus menghormati”. Tapi anak-anak di daerah dulu saya tinggal kebanyakan tidak percaya diri bahwa mereka tidak akan sukses dimasa depan karena mereka memiliki latar belakang yang kurang mampu. Tapi semua itu tidak berlaku setelah seorang anak pendatang yang tinggal di desa kecil ini. Anak ini bernama Gilang anak pidahan dari pulau seberang yang selalu bercerita kepada kami bahwa banyak orang tidak mampu atau miskin diluar sana yang mampu sukses karena diawali oleh mimpi. Setelah kedatangan Gilang itu saya mulai dekat dengan Gilang karena rumah tempat tinggal gilang bersebelahan dengan tempat tinggal saya dan kami juga bersekolah di SD yang sama karena cuma ada satu SD di daerah tempat kami tinggal. Saya dan Gilang akhirnya mengumpulkan ide ide untuk kami jadikan kami sebegai tujuan hidup bersama atau mimpi kami bersama yang akan kami wujudakn suatu saat nanti. Banyak ide yang keluar mulai dari polisi, pilot, koki , penulis dan masih banyak lagi ide yang keluar. Tapi akhirnya kami sepakat untuk menjadikan sekolah keluar negeri menjadi mimpi utama kami. Waktu terus berjalan tidak terasa kami berdua sudah lulus SMP dan kami setuju untuk melanjutkan ke SMA Internasional di kota kami walaupun kami sadar itu akan sangat mahal. Awalnya kami sekolah disana untuk mengejar beasiswa, tapi sayangnya Cuma Gilang yang dapat beasiswa itu karena dia termasuk anak yang diatas rata-rata.
”Lang kamu aja yang sekolah disana, ini kesempatan bagus untuk kamu melanjutkan mimpi kamu” saya berkata kepada Gilang
“Ini mimpi kitakan teman, jadi kita harus menggapainya bersama-sama” Gilang berkata seperti itu sambil menepuk pundak saya
“lagi pula bukan dimana kita sekolah yang penting tapi bagaimana usaka kita untuk belajar, jadi kita sekolah biasa saja” sambil tersenyum kearah saya
Setelah kejadian itu kami akhirnya hanya sekolah di SMA biasa. Tapi walaupun begitu kami tetap semangat untuk mengejar mimpi kami. Kami tidak hanya bersekolah kami juga bekerja untuk meraih mimpi kami ber sekolah diluar negeri. Kami disini bekerja sebagai apapun yang kami bisa dari mulai tukang cuci motor atau mobil sampai pengamen di lampu stopan.
            Saat-saat SMA ini menurut saya waktu-waktu terindah dalam hidup saya. Karena disini saya mengenal banyak orang yang salah satunya Maudy. Maudy ini menurut saya orang paling cantik di sekolah. Dia itu bercita-cita untuk menjadi seorang designer pakaian yang terkenal suatu saat nanti. Mungkin kalian bingung kenapa saya bisa tau sejauh itu, akan saya kasi tau jawabannya. Dulu saya sangat suka padanya bahkan saya pernah dekat dengan dia tapi sampai tamat SMA saya tidak pernah berani mengungkapkannya dan hasilnya sekarang saya sudah tidak penah melihatnya lagi. Kembali lagi ke masa SMA , disini geng kami bertambah. Orang ini bernama krisna dia bergabung ke geng kami berdua karena dia tau tentang mimpi kami dan di juga punya mimpi yang sama. Selama SMA kami selalu berjalan bersama, membicarakan strategi kami untuk meraih mimpi kami. Tapi sayang setelah kami tamat SMA Krisna memutuskan utuk ikut dengan kami bersekolah di luar kota. Hal itu terjadi karena Krisna masih punya ibu yang harus diurusnya karena cuma dia tulang punggung keluarganya. Saya dan Gilang tetap pada pendirian kami untuk melanjutkan sekolah keluar kota untuk mengambil S1. Perpisahan ini terjadi seperti di film-film. Kami semua berpelukan dipelabuhan.
“apapun yang terjadi pada kalian berdua kalian harus tetap mengejar mimpi kita dan pada akhirnya kalian akan mengubah dunia menjadi lebih baik” Krisna berkata seperti itu sambil menangis di pelabuhan
“Ini bukan akhir teman, tapi ini adalah awal dari kita untuk meraih kesuksesan” Gilang berkata pada saya dan Krisna. Saya masih ingat kata-kata itu dikepala saya.
Dan akhirnya saya dan Gilang pun minggalkan kota ini dan untuk kembali lagi kekota ini suatu saat nanti.
            Empat tahun berlalu tidak terasa kami berdua telah lulus di jurusan masing-masing. Saya memilih jurusan ekonomi dan Gilang memilih jurusan sastra inggris. Setelah kami berdua lulus S1 kami berdua bingung bagaimana caranya bisa bersekolah keluar negeri jika untuk makan saja susah di luar kota. Akhirnya kami memutuskan untuk bekerja untuk mengumpulkan uang untuk bersekolah ke luar negeri. Saya bekerja sebagai pegawai di tempat fotocopy dan gilang bekerja sebagai guru private bahasa inggris. Hari hari semakin sulit kami alami setelah Gilang sudah berhenti sebagai guru private bahasa inggris karena merasa kurang cocok dengan pekerjaan itu. Saya satu-satunya harapan untuk makan kami berdua, walaupun begitu Gilang tetap kukuh untuk melanjutkan sekolah keluar negeri. Saya pernah bertanya kepada dia
“Lang apa bisa kita melanjutkan bersekolah keluar negeri ya?” Tanya saya kepada Gilang
“kamu udah putus asa ya Yu” ujar Gilang kepada saya sambil dia berjalan menuju pintu keluar ruangan
Saya masih bingung, apakah kami berdua bisa melanjutkan mimpi kami atau tidak. Dan saya mulai berpikir untuk tidak mengejar mimpi itu lagi dan kembali ke desa. Keesokan harinya ada yang aneh di tempat kami tinggal, Gilang tidak ada di saat matahari sudah terbit. Pertamanya saya berpikir Gilang pergi untuk mencari pekerjaan di pagi hari tapi setelah saya melihat kelemari semua barang-barang Gilang telah hilang. Dan dia Cuma meninggalkan kotak yang berisi tempat kami menyimpan tulisan-tulisan tentang mimpi kami berdua. Disaat itu sangat kecewa dan benci kepada Gilang, mungkinkah karena perkataan saya kemarin Gilang ikut putus asa ,entahlah. Sejak kepergian Gilang itu saya mulai melupakan mimpi-mimpi saya dengan Gilang.
            Dan sekarang satu tahun telah berlalu dari sejak saya lulus S1 dan 8 bulan sejak kepergian gilang meninggalkan saya. Saya masih berkerja ditempat fotocopy. Sepulang saya bekerja saya mencoba membuka kotak yang berisi tentang mimpi saya dengan gilang yang dulu. Saya membaca ulang kertas-kertas yang ada disitu. Saat membaca surat terakhir amarah saya sudah sampai ujung dan tidak bisa ditahan lagi. Dikertas yang terakhir itu berisi tulisan seperti ini
“kita akan pergi ke paris suatu saat nanti untuk merubah dunia ttd Wahyu dan Gilang”
Saya berteriak didalam kamar saya “arghhhhh!!!! Omong kosong semua ini Lang” sambil saya membanting kotak itu kelantai.
“braaak” suara kotak itu jatuh ke lantai
Saya duduk diatas kasur dan menutup wajah saya dengan kedua tangan saya.
“kamu telah menipuku lang!! bohong tentang semua mimpi ini” saya berteriak
Saya langsung tidur setelah membaca semua kertas-kertas yang berisi tentang mimpi kami itu. Keesok harinya saya bangun dan saya berdoa semoga saya diberikan jalan yang terbaik untuk jalan hidup saya. Saya berjalan menuju dapur untuk mencari sedikit makanan di pagi hari, tapi belum jauh saya berjalan dari kasur saya , saya menendang sesuatu yaitu kotak yang kemarin saya banting. Saya baru ingat kemarin saya belum sempat merapikan ini kemarin dan saat saya mau mengambil kotak itu saya melihat sebuah brosur tertempel di bagian bawah kotak itu. Setelah saya baca semua isi brosur itu ternyata Gilang sudah merencanakan ini. Saya langsung mandi dan sarapan dan langsung menuju ke warnet terdekat untuk mengumpukan data, saya Cuma punya waktu tiga hari kedepan. Setelah semua data terkumpul saya langsung menuju ke tempat saya bekerja, di sela-sela waktu saya berkerja saya mengeprint semua data yang sudah saya kumpulkan tadi di warnet. Hari telah berganti  waktu saya sudah semakin sedikit untuk menyiapkan diri dan saya memutuskan mengambil libur hari ini dan besok, untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak kekurangan apapun. Dan hari telah berganti lagi, tidak terasa besok sudah harus mempersentasikan apa yang saya buat. Dan di hari ini saya mempelajari semua data yang telah saya cari untuk saya presentasikan besok. Tak terasa hari sudah malam dan saya sudah siap untuk presentasi besok. Saya memutuskan cukup untuk hari ini dan waktunya beristirahat tapi sayang mata ini tak mau terpejam karena terpikir apa yang akan terjadi besok. Setelah saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya sudah siap untuk persentasi besok. Akhirnya mata saya terbuka dan melihat matahari dengan cerahnya menyinari kamar saya setelah menembus jedela kamar saya. Saya langsung bangun dan mengambil proposal yang telah saya buat kembali mempelajarinya sejenak untuk mengingat.
“saya sudah siap” saya berkata pada diri saya sendiri
lalu setelah saya mempelajari ulang proposal saya itu, saya langsung mandi
            Tibalah saya ditempat dimana saya akan mempresentasikan proposal saya. Saya mulai masuk kedalam gedung besar itu, akibat terlalu besarnya gedung itu saya bingung saya harus kemana.
“Pak dimana tempat presentasi proposal ya?” Tanya saya kepada seorang bapak-bapak berpakaian hitam-hitam seperti pejabat
“Owh adik ingin ikut ya, disebelah sana dik” jawab bapak itu sambil menunjuk kea rah salah satu pintu
Saya mulai berjalan mendekati pintu , langkah demi langkah mulai mendekat hati berdebar tidak karuan.
“kreeeook” suara pintu yang saya buka perlahan
“Selamat pagi dik, adik yang pertama presentasi hari ini”  sapa seorang ibu yang ada didalam ruangan itu
Setelah saya disapa itu, saya mulai mendekat kea rah ibu tersebut dan memberikan proposal saya. Setelah sekian menit proposal saya di periksa dan saya ditanya tentang proposal saya itu, saya disuruh keluar untuk menunggu diluar hasil pengumumannya. Saya mulai membuka pintu itu lagi dan saat saya membuka pintu tersebut saya berpapasan dengan seseorang yang perasaan saya merasa saya kenal. Saya lihat wajahnya, terkejut sangat terkejut.
“Gilang” saya berkata pada orang itu
Dia hanya tersenyum dan melanjutkan perjalannya untuk memberikan proposal.
            Saya duduk diruang tunggu, menunggu pengumumannya dan orang yang saya lihat tadi. Setelah beberapa menit sosok yang saya tunggu keluar dan dia berjalan kearah saya.
“hey yu” Tanya orang itu kepada saya
“ternyata benar Gilang” saya berkata dalam hati dan langsung memeluknya
Lalu kami duduk bersama dan berbicara empat mata.
“kenapa kamu ninggalin saya ?” Tanya saya kepada Wahyu
“aku gak mau ngerepotin kamu” jawab Gilang sambil tersenyum
“apakah kamu itu sudah merencanakan ini semua? Bagaimana kalau saya tidak melihat brosur beasiswa ke paris itu?” Tanya saya kedapa Gilang dengan nada keras
“saya tau kamu pasti melihatnya”
“sudahlah yang penting kita sudah bertemu lagi” saya berkata kepada GIlang
Setelah beberapa lama kami berbicara dan sudah mulai akrab seperti dulu. Ibu yang tadi menerima proposal saya menuju kearah kami.
“Adi Wahyu dan Adik Gilang ya?” Tanya ibu itu kepada kami
“iya kami” jawab kami bersamaan
“Selamat ya kalian lolos untuk beasiswa ke paris,, mohon satu minggu lagi bersiap-siap untuk keberangkatannya”
Rasa senang yang ada dalam hati tak bisa tertahan lagi
“Kita ini Bukan Cuma Pemimpi Lang….” teriak saya didalam gedung itu
Gilang hanya tersenyum lebar ke arah saya
Satu minggu berselang kami berdua sudah siap berangkat, tapi sebelum kami berangkat kami berdua mencoret tembok tempat kami kost.
“Bukan Cuma Pemimpi” itu yang kami tulis di tembok belakang lemari kenangan kami.
menurut saya hidup itu memang benar berawal dari mimpi, tanpa mimpi kita tidak tau kemana kita harus melangkah bahkan tanpa mimpi kita tidak tau harus berbuat apa kedepannya. Jadi bermimpilah apa yang kau inginkan dimasa depan agar tidak bingung menentukan pilihan dihari nanti



Tidak ada komentar:

Posting Komentar