Bukan Cuma Pemimpi
Penulis: Angga Pamungkas
Kenalkan nama saya
Wahyu umur 22 tahun pekerjaan pegawai tempat fotocopy dan saya juga memiliki
pekerjaan sampingan melihat berkas-berkas mimpi saya di masa lalu bersama teman
saya yang bernama Gilang yang telah menghilang entah kemana.Dia meninggalkan
sejuta kenangan bersama saya terutama soal mimpi. Mimpi adalah harapan yang
kita inginkan saat ini untuk kita capai atau wujudkan suatu saat nanti. Ada
banyak orang yang berkata hidup itu berawal dari mimpi, mungkin itu benar tapi
mungkin juga salah. Banyak orang berkata “buat apa bermimpi yang tinggi jika
tidak bisa menggapainya, lebih baik jalani hidup seadanya dan berharap tuhan
memberi keberuntungan” , tapi itu semua tidak membuat saya
berhenti bermimpi
dan melanjutkan mimpi-mimpi saya bersama Gilang meski dia sudah menghilang.
Saya
akan bercerita sejenak kenangan saya dimasa lalu. Saya tinggal disebuah desa
kecil di pinggiran ibu kota. Disini saya memiliki banyak teman, mulai dari
kulit hitam,putih rambut keriting,lurus bertubuh pendek,tinggi dan lain lain.
Walaupun kami berbeda disini kami tetap saling menghormati karena kami semua
punya prinsip “ingin dihormati kita harus menghormati”. Tapi anak-anak di
daerah dulu saya tinggal kebanyakan tidak percaya diri bahwa mereka tidak akan
sukses dimasa depan karena mereka memiliki latar belakang yang kurang mampu.
Tapi semua itu tidak berlaku setelah seorang anak pendatang yang tinggal di
desa kecil ini. Anak ini bernama Gilang anak pidahan dari pulau seberang yang
selalu bercerita kepada kami bahwa banyak orang tidak mampu atau miskin diluar
sana yang mampu sukses karena diawali oleh mimpi. Setelah kedatangan Gilang itu
saya mulai dekat dengan Gilang karena rumah tempat tinggal gilang bersebelahan
dengan tempat tinggal saya dan kami juga bersekolah di SD yang sama karena cuma
ada satu SD di daerah tempat kami tinggal. Saya dan Gilang akhirnya
mengumpulkan ide ide untuk kami jadikan kami sebegai tujuan hidup bersama atau
mimpi kami bersama yang akan kami wujudakn suatu saat nanti. Banyak ide yang
keluar mulai dari polisi, pilot, koki , penulis dan masih banyak lagi ide yang
keluar. Tapi akhirnya kami sepakat untuk menjadikan sekolah keluar negeri
menjadi mimpi utama kami. Waktu terus berjalan tidak terasa kami berdua sudah
lulus SMP dan kami setuju untuk melanjutkan ke SMA Internasional di kota kami
walaupun kami sadar itu akan sangat mahal. Awalnya kami sekolah disana untuk
mengejar beasiswa, tapi sayangnya Cuma Gilang yang dapat beasiswa itu karena dia
termasuk anak yang diatas rata-rata.
”Lang kamu aja yang sekolah disana, ini kesempatan
bagus untuk kamu melanjutkan mimpi kamu” saya berkata kepada Gilang
“Ini mimpi kitakan teman, jadi kita harus
menggapainya bersama-sama” Gilang berkata seperti itu sambil menepuk pundak
saya
“lagi pula bukan dimana kita sekolah yang penting
tapi bagaimana usaka kita untuk belajar, jadi kita sekolah biasa saja” sambil
tersenyum kearah saya
Setelah kejadian itu kami akhirnya hanya sekolah di
SMA biasa. Tapi walaupun begitu kami tetap semangat untuk mengejar mimpi kami.
Kami tidak hanya bersekolah kami juga bekerja untuk meraih mimpi kami ber
sekolah diluar negeri. Kami disini bekerja sebagai apapun yang kami bisa dari
mulai tukang cuci motor atau mobil sampai pengamen di lampu stopan.
Saat-saat
SMA ini menurut saya waktu-waktu terindah dalam hidup saya. Karena disini saya
mengenal banyak orang yang salah satunya Maudy. Maudy ini menurut saya orang
paling cantik di sekolah. Dia itu bercita-cita untuk menjadi seorang designer
pakaian yang terkenal suatu saat nanti. Mungkin kalian bingung kenapa saya bisa
tau sejauh itu, akan saya kasi tau jawabannya. Dulu saya sangat suka padanya
bahkan saya pernah dekat dengan dia tapi sampai tamat SMA saya tidak pernah
berani mengungkapkannya dan hasilnya sekarang saya sudah tidak penah melihatnya
lagi. Kembali lagi ke masa SMA , disini geng kami bertambah. Orang ini bernama
krisna dia bergabung ke geng kami berdua karena dia tau tentang mimpi kami dan
di juga punya mimpi yang sama. Selama SMA kami selalu berjalan bersama,
membicarakan strategi kami untuk meraih mimpi kami. Tapi sayang setelah kami
tamat SMA Krisna memutuskan utuk ikut dengan kami bersekolah di luar kota. Hal
itu terjadi karena Krisna masih punya ibu yang harus diurusnya karena cuma dia
tulang punggung keluarganya. Saya dan Gilang tetap pada pendirian kami untuk
melanjutkan sekolah keluar kota untuk mengambil S1. Perpisahan ini terjadi
seperti di film-film. Kami semua berpelukan dipelabuhan.
“apapun yang terjadi pada kalian berdua kalian harus
tetap mengejar mimpi kita dan pada akhirnya kalian akan mengubah dunia menjadi
lebih baik” Krisna berkata seperti itu sambil menangis di pelabuhan
“Ini bukan akhir teman, tapi ini adalah awal dari
kita untuk meraih kesuksesan” Gilang berkata pada saya dan Krisna. Saya masih
ingat kata-kata itu dikepala saya.
Dan akhirnya saya dan Gilang pun minggalkan kota ini
dan untuk kembali lagi kekota ini suatu saat nanti.
Empat
tahun berlalu tidak terasa kami berdua telah lulus di jurusan masing-masing.
Saya memilih jurusan ekonomi dan Gilang memilih jurusan sastra inggris. Setelah
kami berdua lulus S1 kami berdua bingung bagaimana caranya bisa bersekolah
keluar negeri jika untuk makan saja susah di luar kota. Akhirnya kami
memutuskan untuk bekerja untuk mengumpulkan uang untuk bersekolah ke luar
negeri. Saya bekerja sebagai pegawai di tempat fotocopy dan gilang bekerja
sebagai guru private bahasa inggris. Hari hari semakin sulit kami alami setelah
Gilang sudah berhenti sebagai guru private bahasa inggris karena merasa kurang
cocok dengan pekerjaan itu. Saya satu-satunya harapan untuk makan kami berdua,
walaupun begitu Gilang tetap kukuh untuk melanjutkan sekolah keluar negeri.
Saya pernah bertanya kepada dia
“Lang apa bisa kita melanjutkan bersekolah keluar
negeri ya?” Tanya saya kepada Gilang
“kamu udah putus asa ya Yu” ujar Gilang kepada saya
sambil dia berjalan menuju pintu keluar ruangan
Saya masih bingung, apakah kami berdua bisa
melanjutkan mimpi kami atau tidak. Dan saya mulai berpikir untuk tidak mengejar
mimpi itu lagi dan kembali ke desa. Keesokan harinya ada yang aneh di tempat
kami tinggal, Gilang tidak ada di saat matahari sudah terbit. Pertamanya saya
berpikir Gilang pergi untuk mencari pekerjaan di pagi hari tapi setelah saya
melihat kelemari semua barang-barang Gilang telah hilang. Dan dia Cuma
meninggalkan kotak yang berisi tempat kami menyimpan tulisan-tulisan tentang
mimpi kami berdua. Disaat itu sangat kecewa dan benci kepada Gilang, mungkinkah
karena perkataan saya kemarin Gilang ikut putus asa ,entahlah. Sejak kepergian
Gilang itu saya mulai melupakan mimpi-mimpi saya dengan Gilang.
Dan
sekarang satu tahun telah berlalu dari sejak saya lulus S1 dan 8 bulan sejak
kepergian gilang meninggalkan saya. Saya masih berkerja ditempat fotocopy.
Sepulang saya bekerja saya mencoba membuka kotak yang berisi tentang mimpi saya
dengan gilang yang dulu. Saya membaca ulang kertas-kertas yang ada disitu. Saat
membaca surat terakhir amarah saya sudah sampai ujung dan tidak bisa ditahan
lagi. Dikertas yang terakhir itu berisi tulisan seperti ini
“kita akan pergi ke paris suatu saat nanti untuk
merubah dunia ttd Wahyu dan Gilang”
Saya berteriak didalam kamar saya “arghhhhh!!!!
Omong kosong semua ini Lang” sambil saya membanting kotak itu kelantai.
“braaak” suara kotak itu jatuh ke lantai
Saya duduk diatas kasur dan menutup wajah saya
dengan kedua tangan saya.
“kamu telah menipuku lang!! bohong tentang semua
mimpi ini” saya berteriak
Saya langsung tidur setelah membaca semua
kertas-kertas yang berisi tentang mimpi kami itu. Keesok harinya saya bangun
dan saya berdoa semoga saya diberikan jalan yang terbaik untuk jalan hidup
saya. Saya berjalan menuju dapur untuk mencari sedikit makanan di pagi hari,
tapi belum jauh saya berjalan dari kasur saya , saya menendang sesuatu yaitu
kotak yang kemarin saya banting. Saya baru ingat kemarin saya belum sempat
merapikan ini kemarin dan saat saya mau mengambil kotak itu saya melihat sebuah
brosur tertempel di bagian bawah kotak itu. Setelah saya baca semua isi brosur
itu ternyata Gilang sudah merencanakan ini. Saya langsung mandi dan sarapan dan
langsung menuju ke warnet terdekat untuk mengumpukan data, saya Cuma punya
waktu tiga hari kedepan. Setelah semua data terkumpul saya langsung menuju ke
tempat saya bekerja, di sela-sela waktu saya berkerja saya mengeprint semua
data yang sudah saya kumpulkan tadi di warnet. Hari telah berganti waktu saya sudah semakin sedikit untuk
menyiapkan diri dan saya memutuskan mengambil libur hari ini dan besok, untuk
mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak kekurangan apapun. Dan hari telah
berganti lagi, tidak terasa besok sudah harus mempersentasikan apa yang saya
buat. Dan di hari ini saya mempelajari semua data yang telah saya cari untuk
saya presentasikan besok. Tak terasa hari sudah malam dan saya sudah siap untuk
presentasi besok. Saya memutuskan cukup untuk hari ini dan waktunya
beristirahat tapi sayang mata ini tak mau terpejam karena terpikir apa yang
akan terjadi besok. Setelah saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya sudah
siap untuk persentasi besok. Akhirnya mata saya terbuka dan melihat matahari
dengan cerahnya menyinari kamar saya setelah menembus jedela kamar saya. Saya
langsung bangun dan mengambil proposal yang telah saya buat kembali
mempelajarinya sejenak untuk mengingat.
“saya sudah siap” saya berkata pada diri saya
sendiri
lalu setelah saya mempelajari ulang proposal saya
itu, saya langsung mandi
Tibalah
saya ditempat dimana saya akan mempresentasikan proposal saya. Saya mulai masuk
kedalam gedung besar itu, akibat terlalu besarnya gedung itu saya bingung saya
harus kemana.
“Pak dimana tempat presentasi proposal ya?” Tanya saya
kepada seorang bapak-bapak berpakaian hitam-hitam seperti pejabat
“Owh adik ingin ikut ya, disebelah sana dik” jawab
bapak itu sambil menunjuk kea rah salah satu pintu
Saya mulai berjalan mendekati pintu , langkah demi
langkah mulai mendekat hati berdebar tidak karuan.
“kreeeook” suara pintu yang saya buka perlahan
“Selamat pagi dik, adik yang pertama presentasi hari
ini” sapa seorang ibu yang ada didalam
ruangan itu
Setelah saya disapa itu, saya mulai mendekat kea rah
ibu tersebut dan memberikan proposal saya. Setelah sekian menit proposal saya
di periksa dan saya ditanya tentang proposal saya itu, saya disuruh keluar
untuk menunggu diluar hasil pengumumannya. Saya mulai membuka pintu itu lagi
dan saat saya membuka pintu tersebut saya berpapasan dengan seseorang yang
perasaan saya merasa saya kenal. Saya lihat wajahnya, terkejut sangat terkejut.
“Gilang” saya berkata pada orang itu
Dia hanya tersenyum dan melanjutkan perjalannya
untuk memberikan proposal.
Saya
duduk diruang tunggu, menunggu pengumumannya dan orang yang saya lihat tadi.
Setelah beberapa menit sosok yang saya tunggu keluar dan dia berjalan kearah
saya.
“hey yu” Tanya orang itu kepada saya
“ternyata benar Gilang” saya berkata dalam hati dan
langsung memeluknya
Lalu kami duduk bersama dan berbicara empat mata.
“kenapa kamu ninggalin saya ?” Tanya saya kepada
Wahyu
“aku gak mau ngerepotin kamu” jawab Gilang sambil
tersenyum
“apakah kamu itu sudah merencanakan ini semua?
Bagaimana kalau saya tidak melihat brosur beasiswa ke paris itu?” Tanya saya
kedapa Gilang dengan nada keras
“saya tau kamu pasti melihatnya”
“sudahlah yang penting kita sudah bertemu lagi” saya
berkata kepada GIlang
Setelah beberapa lama kami berbicara dan sudah mulai
akrab seperti dulu. Ibu yang tadi menerima proposal saya menuju kearah kami.
“Adi Wahyu dan Adik Gilang ya?” Tanya ibu itu kepada
kami
“iya kami” jawab kami bersamaan
“Selamat ya kalian lolos untuk beasiswa ke paris,,
mohon satu minggu lagi bersiap-siap untuk keberangkatannya”
Rasa senang yang ada dalam hati tak bisa tertahan
lagi
“Kita ini Bukan Cuma Pemimpi Lang….” teriak saya
didalam gedung itu
Gilang hanya tersenyum lebar ke arah saya
Satu minggu berselang kami berdua sudah siap
berangkat, tapi sebelum kami berangkat kami berdua mencoret tembok tempat kami
kost.
“Bukan Cuma Pemimpi” itu yang kami tulis di tembok
belakang lemari kenangan kami.
“menurut saya
hidup itu memang benar berawal dari mimpi, tanpa mimpi kita tidak tau kemana
kita harus melangkah bahkan tanpa mimpi kita tidak tau harus berbuat apa
kedepannya. Jadi bermimpilah apa yang kau inginkan dimasa depan agar tidak
bingung menentukan pilihan dihari nanti”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar